Manokwari (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa kinerja perbankan di Provinsi Papua Barat terus menunjukkan perkembangan positif yang tercermin dari total aset per Oktober 2025 tercatat sebanyak Rp17,37 triliun.

Kepala OJK Papua Barat dan Papua Barat Daya Budi Rahman, di Manokwari, Kamis, mengatakan aset perbankan tumbuh 3,67 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 5,43 persen secara tahun berjalan (year-to-date/ytd).

"Pada Oktober 2024, total aset perbankan Rp16,76 triliun, sedangkan posisi Desember 2024 berada di angka Rp16,48 triliun," kata Budi.

Selain aset, kata dia lagi, penyaluran kredit perbankan di wilayah tersebut mencapai Rp9,88 triliun atau tumbuh signifikan sebesar 16,56 persen (yoy) dibandingkan periode Oktober 2024 yaitu Rp8,47 triliun.

Kredit konsumtif memberikan kontribusi sebesar 56,85 persen atau Rp5,61 triliun dari total penyaluran pada Oktober 2025, sedangkan kredit produktif menyumbang 43,15 persen atau Rp4,26 triliun.

"Kredit konsumtif tumbuh 24,52 persen (yoy) lebih tinggi dari pertumbuhan kredit produktif yaitu 11,16 persen (yoy)," ujar Budi.

Secara sektoral, kata dia, kredit rumah tangga menjadi yang terbesar dengan realisasi Rp5,87 triliun, disusul perdagangan Rp1,50 triliun, serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan Rp356,89 miliar.

Sektor lainnya yang juga mengakses kredit perbankan yaitu, sektor jasa konstruksi sebesar Rp263,07 miliar, kemudian sektor aktivitas jasa lainnya yang tercatat sebanyak Rp260,14 miliar.

"Sektor rumah tangga memiliki share 62,76 terhadap total penyaluran kredit pada Oktober 2025," kata Budi lagi.

Ia menyebut, dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan dalam bentuk tabungan, giro, dan deposito mencapai Rp7,76 triliun namun mengalami kontraksi 0,41 persen (yoy) dan kontraksi 3,07 persen (ytd).

Tabungan memberikan andil 58,26 persen atau Rp4,56 triliun dari total DPK pada Oktober 2025, diikuti giro sebanyak Rp2,01 triliun atau 26,6 persen, dan deposito Rp1,18 triliun atau 15,48 persen.

"Hanya giro yang terkontraksi 30,69 persen sehingga memengaruhi kinerja DPK perbankan di Papua Barat," ujar Budi pula.

Menurut dia, kualitas kredit perbankan sangat terkendali yang tercermin dari tingkat kredit macet (Non-Performing Loan/NPL) 0,81 persen, sedangkan Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 129,08 persen.

Posisi NPL meskipun terkendali namun lebih tinggi dibandingkan dengan posisi NPL periode September 2025 yaitu 0,78 persen dan NPL Oktober 2024 yang tercatat hanya 0,69 persen.

"Kalau LDR melebihi 100 persen artinya, penyaluran kredit lebih tinggi dibanding DPK perbankan," ujarnya.



Pewarta: Fransiskus Salu Weking
Editor : Evarianus Supar

COPYRIGHT © ANTARA 2026