Timika (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika, Papua Tengah melakukan koordinasi dengan pimpinan TNI-Polri di wilayah itu untuk menyikapi konflik sosial yang terjadi di Distrik Kwamki Narama, yang telah merenggut korban nyawa 10 orang.
Bupati Mimika Johannes Rettob di Timika, Senin, mengatakan dirinya telah berkoordinasi dengan para pejabat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setempat guna mengambil langkah tegas menyelesaikan konflik berkepanjangan di Distrik Kwamki Narama yang sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
"Tadi malam kami sudah diskusikan dengan pimpinan TNI-Polri untuk menangani permasalahan di Kwamki Narama itu. Hari ini TNI-Polri langsung gelar pasukan di sana, dan sementara ini aparat juga melakukan razia senjata tajam di sana," kata Rettob.
Pemkab Mimika, kata dia, terus membangun koordinasi dengan jajaran Forkopimda setempat agar konflik sosial yang melibatkan dua kelompok masyarakat di Kwamki Narama bisa segera diatasi.
Guna mencegah ekses lebih lanjut dari konflik tersebut, kata Rettob, Pemkab Mimika juga berkoordinasi dengan Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa untuk mendorong pembentukan regulasi berupa peraturan daerah yang memungkinkan penanganannya menggunakan instrumen hukum positif, bukan hukum adat.
"Kami sudah berkoordinasi dengan Gubernur Papua Tengah untuk membuat peraturan daerah, sehingga ke depan ketika terjadi konflik seperti di Kwamki Narama itu maka kita utamakan penegakan hukum positif," ujarnya.
Menurut dia, penegakan hukum positif dinilai sebagai langkah yang paling tepat dalam menangani konflik sosial antarkelompok masyarakat Papua pegunungan yang rentan terjadi.
Bupati Mimika meyakini permasalahan antara dua kelompok keluarga yang bertikai di Kwamki Narama itu bisa diselesaikan jika semua pihak mau berdamai.
"Masalah ini bisa diselesaikan. Intinya hukum positif tidak boleh kalah dari hukum adat. Kalau kita terus menghubungkan dengan hukum-hukum yang lain maka keadaan di Kwamki Narama akan begini-begini terus. Kami minta dua belah pihak juga harus mau duduk bersama untuk berdamai," pinta Bupati Rettob.
Pertikaian dua kelompok keluarga di Kwamki Narama terjadi sejak Oktober 2025, dipicu oleh kasus perselingkuhan. Namun eskalasi konflik semakin meluas, melibatkan juga warga dari Kabupaten Puncak, hingga jatuh korban jiwa hingga 10 orang yaitu lima orang meninggal dari kubu pelaku dan lima orang meninggal dari kubu korban.
Pada Minggu (4/1/2025), warga Timika dihebohkan dengan tersebarnya foto dari arena konflik di Kwamki Narama, yang memperlihatkan seorang laki-laki terbujur kaku dengan tubuh dipenuhi puluhan anak panah.
Pemkab Mimika koordinasi TNI-Polri sikapi konflik warga di Kwamki Narama
Senin, 5 Januari 2026 10:31 WIB
Bupati Mimika Johannes Rettob diwawancarai oleh awak media di Timika, Senin (05/11/2025). ANTARA/Marsel Balawanga
