Sorong (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Sorong, Papua Barat Daya, tengah memfokuskan diri pada pembangunan kanal di wilayah KM 10 sebagai upaya serius mengendalikan banjir yang selama ini kerap melanda sejumlah wilayah, khususnya di kawasan KM 8 hingga KM 12.
Wali Kota Sorong Septinus Lobat di Sorong, Selasa, mengatakan pada tahun pertama pelaksanaan program pemerintah memprioritaskan penanganan banjir di KM 10 sebagai daerah terdampak ketika hujan, dengan membangun kanal.
Setelah pekerjaan selesai, lanjut dia, pemerintah akan melakukan evaluasi saat musim hujan untuk melihat efektivitas pengendalian banjir sebelum melakukan intervensi lanjutan di wilayah lain.
“Tahun pertama kita fokus wilayah KM 10 dulu. Setelah itu kita lihat saat hujan, apakah masih terjadi banjir atau tidak. Dari situ kita tentukan, apakah wilayah tersebut masih perlu intervensi atau kita pindah ke daerah lain yang juga rawan banjir,” ujarnya usai meninjau pembangunan kanal di KM 10 Kota Sorong.
Selain KM10, kata dia, terdapat beberapa titik rawan banjir lainnya seperti Sungai Klasaman yang kerap meluap hingga ke kawasan rumah sakit, sekolah, dan pemukiman warga, terutama setiap bulan Agustus.
Ia menyebut persoalan banjir sebagai pekerjaan rumah besar pemerintah kota. “Banjir ini isu utama kota. Masyarakat di wilayah KM 8 sampai KM 12 sering mengalami banjir dan kami tidak menutup mata. Ini menjadi program prioritas kami,” ujarnya.
Meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran dan kebijakan efisiensi pada 2025 lalu, kata dia, Pemkot Sorong tetap menunjukkan komitmen dengan bekerja secara bertahap dan berkelanjutan.
“Kami tidak mau membuat banyak program, tapi tidak ada yang selesai. Satu program, satu pekerjaan, harus diselesaikan. Selama delapan sampai sembilan bulan ini kami membuktikan bahwa pemerintah tidak hanya bicara, tapi bekerja,” katanya.
Salah satu pekerjaan strategis yang tengah berjalan adalah penataan Sungai Maruni, yang dibuka mulai dari lampu merah KM 10 hingga direncanakan tembus ke kawasan Hotel Kriat. Pekerjaan tersebut telah dianggarkan dan akan dilanjutkan hingga tuntas tahun ini.
“Kota Sorong ini adalah ibu kota Provinsi Papua Barat Daya. Kita ingin menata kota ini agar menjadi milik bersama dan menarik bagi setiap orang yang datang,” katanya.
Sementara itu Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Sorong Esau Isir menjelaskan bahwa pembangunan pengendalian banjir di kawasan Sungai Maruni KM 10 menggunakan konstruksi set panel beton sesuai perencanaan teknis.
“Pada tahap pertama, panjang kanal yang dibangun sekitar 150 meter, dengan lebar 3,5 meter dan kedalaman kurang lebih 4 meter,” jelas Esau.
Namun demikian, kata dia, kedalaman kanal masih akan disesuaikan dengan kondisi lapangan, mengingat pembangunan saat ini telah mencapai area depan Supermarket Papua hingga menuju Kali Klasaman.
Selain itu terdapat pekerjaan pengendalian banjir di lokasi kedua, yakni kawasan KPR PAM dengan panjang sekitar 74 meter. Saluran tersebut berfungsi mengendalikan limpasan air dari Jalan Bima, belakang Kantor DPRK Kota Sorong, yang sebelumnya meluap ke Sungai Maruni.
“Sebagian air banjir kita alirkan ke kanal KPR PAM menuju Kali Klasaman, sebagian lagi kita arahkan lurus ke Sungai Maruni hingga ke jalan nasional dan masuk ke Sungai Klasaman,” terangnya.
Tak hanya itu Pemkot Sorong juga membagi aliran air melalui Jalan Handayani menuju Kali Klagison sebagai bagian dari strategi menyebar debit air agar tidak terpusat di satu titik.
“Ini bagian dari strategi pengendalian banjir terpadu agar persoalan banjir yang selama ini menghantui masyarakat Kota Sorong bisa teratasi secara bertahap,” ujarnya.
