Manokwari (ANTARA) - Universitas Papua (Unipa) Manokwari, Papua Barat mengukuhkan Prof. Dr. Hugo Warami sebagai guru besar orang Papua pertama di bidang linguistik, antropologi linguistik, dan linguistik forensik.
Sekretaris Senat Unipa sekaligus Wakil Rektor I, Dr. Jonni Marwa di Manokwari, Kamis, mengatakan pengukuhan tersebut menjadi tonggak penting bagi pengembangan keilmuan di Tanah Papua sekaligus catatan sejarah bagi Unipa dalam upaya pelestarian bahasa dan budaya Papua
“Pengukuhan ini menandai perjalanan panjang ketekunan, dedikasi, dan puncak tanggung jawab akademik pada capaian guru besar. Ini bukan sekadar gelar, tetapi pengakuan institusional atas kapasitas keilmuan dan pengabdian,” kata Jonni.
Pengukuhan Prof. Hugo Warami juga menjadi yang pertama bagi Fakultas Sastra dan Budaya Unipa.
Selain itu, pengukuhan guru besar ini juga menjadi catatan sejarah lantaran Prof. Hugo Warami merupakan Rektor Unipa sekaligus menambah jumlah guru besar orang asli Papua di Unipa.
Menurut Jonni, bidang linguistik, antropologi linguistik, dan linguistik forensik memiliki relevansi kuat dengan kondisi Papua yang dikenal memiliki keberagaman bahasa dan budaya yang tinggi.
Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai penyimpan pengetahuan lokal, identitas sosial, serta sistem nilai masyarakat adat.
“Kajian linguistik dan antropologi linguistik berperan penting dalam mendokumentasikan dan melestarikan kekayaan bahasa dan budaya Papua, sementara linguistik forensik berkontribusi dalam konteks hukum dan keadilan melalui pendekatan ilmiah terhadap bahasa,” ujarnya.
Pengukuhan Prof. Warami menambah jumlah guru besar di Unipa yang sebelumnya telah memiliki 26 profesor dari berbagai bidang keilmuan yaitu Kelautan dan Perikanan, Pertanian, Kehutanan, Teknik, Peternakan, Teknologi Pertanian, serta Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Selain itu, dari 27 guru besar di Unipa saat ini, lima diantaranya merupakan orang asli Papua.
Capaian tersebut, menurut dia, menunjukkan komitmen Unipa sebagai pusat produksi pengetahuan yang relevan dengan konteks lokal dan tantangan global.
Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengatakan kehadiran seorang guru besar bukan sekadar simbol akademik, melainkan wujud dedikasi, kerja keras, dan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Capaian tersebut dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pelestarian bahasa daerah di Papua Barat sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat.
“Kami berharap pengukuhan guru besar ini menjadi motivasi bagi akademisi, dosen, dan peneliti untuk terus berkarya menghasilkan penelitian berkualitas yang bermanfaat bagi kemajuan Papua Barat,” kata Dominggus.
Gubernur juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersinergi meningkatkan kualitas pendidikan guna melahirkan sumber daya manusia unggul yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Pengukuhan guru besar tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda Papua bahwa capaian akademik tertinggi dapat diraih melalui ketekunan, disiplin, dan komitmen terhadap ilmu pengetahuan yang diabdikan bagi masyarakat.
Pewarta: Ali Nur IchsanEditor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.