Bandung Barat (ANTARA) - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menanggapi laporan adanya antrean panjang masyarakat di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di sejumlah wilayah.
Ia menjelaskan antrean terjadi karena adanya jeda dalam proses pengiriman ketika stok di SPBU habis. Kondisi tersebut memicu kecemasan masyarakat, sehingga pemerintah segera melakukan antisipasi.
“Ada reaksi kecemasan juga dari masyarakat. Itu yang kami antisipasi,” kata Yuliot usai meninjau Fuel Terminal Padalarang, Bandung, Jawa Barat, Senin.
Yuliot menyampaikan bahwa koordinasi intensif dilakukan bersama Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) dan Pertamina Patra Niaga guna mempercepat distribusi.
“Begitu ada informasi antrean, kami langsung berkoordinasi dengan kepala BPH Migas dan Ketua Posko Nasional ESDM untuk mempercepat pengiriman. Pertamina Patra Niaga juga segera menindaklanjuti, sehingga di beberapa daerah bisa cepat tertangani,” ujar dia.
Kementerian ESDM memastikan bahwa pasokan BBM tetap tersedia dan distribusi akan terus dijaga agar tidak menimbulkan gangguan di lapangan.
Selain itu, Yuliot menegaskan bahwa secara nasional stok BBM berada jauh di atas batas minimum yang ditetapkan.
Pertalite memiliki stok untuk 24 hari, sementara batas minimum 18,2 hari. Pertamax tercatat 27,4 hari, di atas batas minimum 19,9 hari. Pertamax Turbo mencapai 30,2 hari, dengan batas minimum 22 hari.
Untuk Solar, pemerintah juga memastikan pasokan tetap terjaga. Sementara itu, stok Pertamina Dex saat ini mencapai 46,9 hari, jauh di atas batas minimum 24,9 hari.
“Dengan kondisi ini, kami rasa sampai dengan akhir puncak mudik dan balik insya Allah aman dari sisi ketersediaan BBM,” tuturnya.
Pewarta: Shofi AyudianaEditor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.