Nabire (ANTARA) - Aksi demonstrasi mahasiswa di Nabire, Papua Tengah, yang menuntut keadilan hak asasi manusia (HAM) atas kasus penembakan warga sipil di Kabupaten Puncak berakhir aman dan kondusif berkat pendekatan humanis.
Kapolres Nabire AKBP Samuel D. Tatiratu di Nabire, Senin, mengatakan secara umum kegiatan penyampaian aspirasi berjalan tertib meski sempat terjadi insiden pelemparan ke Kantor DPRP Papua Tengah akibat kesalahpahaman.
“Secara umum kegiatan berjalan aman dan kondusif. Ini tidak terlepas dari pendekatan persuasif dan komunikasi aktif yang dilakukan aparat selama pengamanan,” ujarnya.
Ia menjelaskan situasi sempat memanas, namun berhasil diredam setelah pihaknya turun langsung bersama koordinator lapangan untuk menenangkan massa.
Selanjutnya, mahasiswa melanjutkan orasi dan menyampaikan aspirasi di hadapan anggota DPRP dan MRP Papua Tengah.
Dalam aksinya, mahasiswa menuntut penegakan HAM di Tanah Papua serta mendesak yang terlibat dalam penembakan warga sipil di Kabupaten Puncak segera diproses hukum.
Aksi mahasiswa yang berlangsung di Kantor DPRP Papua Tengah sejak pukul 13.00 hingga 15.30 WIT itu kemudian selesai dengan tertib.
“Aparat juga memfasilitasi pemulangan massa menggunakan sedikitnya tujuh truk menuju titik kumpul awal, seperti Asrama Puncak, Pasar Karang, dan wilayah Jepara II,” ujarnya.
Kapolres menambahkan keberhasilan pengamanan tidak lepas dari perencanaan matang serta koordinasi lintas sektor yang melibatkan TNI, pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, hingga Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).
Sebanyak 800 personel gabungan TNI-Polri dan Satpol PP dikerahkan dan disiagakan untuk memastikan jalannya aksi mahasiswa tersebut tetap aman.
Bahkan Kapolres bersama Dandim 1705/Nabire Letkol Dwi Palwanto Tirtamentari turut turun langsung mengawal long march mahasiswa sebagai bagian dari pendekatan humanis dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Kami terbuka untuk koordinasi. Setiap penyampaian pendapat di muka umum diharapkan tetap mengikuti mekanisme agar berjalan aman dan tertib,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, termasuk personel TNI, Brimob, dan jajaran Polda Papua Tengah, yang telah berkontribusi dalam pengamanan aksi.
Diketahui, aksi mahasiswa tersebut dipicu oleh peristiwa penembakan warga sipil di Kampung Kemburu, Kabupaten Puncak, pada 14 April 2026 yang menimbulkan korban jiwa dan mendapat perhatian berbagai pihak termasuk Komnas HAM RI dan Kementerian HAM.
Pewarta: Ali Nur IchsanEditor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.