Timika (ANTARA) - Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika di Timika, Papua Tengah, membutuhkan penambahan guru dan wali asuh guna mendukung proses belajar mengajar anak di sekolah dan pengawasan anak di asrama.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika Ajeng Wulandari di Timika, Rabu, mengatakan jumlah keseluruhan siswa di sekolah itu sebanyak 68 anak terbagi menjadi dua, siswa SMP sebanyak 33 anak dan siswa SMA sebanyak 35 anak.
Sebanyak 80 persen siswa yang belajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika merupakan anak-anak asli Papua, sementara 20 persen adalah anak-anak non-Papua.
“Siswa SMP terbagi dalam dua rombongan belajar, begitu juga SMA. Sementara guru yang mengajar jumlahnya hanya tujuh orang dan ini sangat kurang,” kata Ajeng Wulandari.
Dengan jumlah guru yang terbatas, kata dia, ketika pelajaran praktik di sekolah rombongan belajar di tingkat SMP dan SMA digabung menjadi satu kelas. Menurut dia, idealnya sekolah tersebut minimal harus memilik 14 sampai 15 guru.
Proses belajar mengajar para siswa di sekolah tersebut menggunakan papan tulis interaktif (interactive whiteboard) dan juga fasilitas laptop.
"Awalnya tidak terlalu lancar, tapi sekarang ini anak-anak sudah mulai lancar menggunakannya," ujar Ajeng Wulandari.
Para siswa juga mendapatkan bantuan alat tulis, tas sekolah, seragam sekolah, tumbler air minum, sepatu, dan pakaian sehari hari.
“Perkembangan siswa secara akademik belum menujukan hal yang signifikan, tetapi secara kesehatan mereka mengalami banyak perubahan," ucapnya.
Selain kekurangan guru, kata dia, sekolah tersebut juga kekurangan wali asuh untuk mengawasi anak-anak yang tinggal di asrama. Jumlah wali asuh di asrama sekolah tersebut hanya lima orang.
“Wali asuh ini tidak seimbang karena wali asuh perempuan itu hanya satu orang, sementara jumlah siswa perempuan ada 20-an orang. Ini tidak efektif untuk memperhatikan perkembangan siswa,” ujarnya.
Sarana prasarana pendukung lainnya yang juga masih kurang di sekolah itu, kata dia, antara lain mobil operasional sekolah dan juga kamera pengawas (CCTV).
"Di asrama ini ada anak laki-laki dan perempuan, sehingga kami butuh tambahan CCTV untuk memantau anak-anak di sekolah dan asrama,” ujarnya.
Pewarta: Marselinus NaraEditor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026