Nabire (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Papua Tengah tahun ini menempatkan sebanyak 500 guru melalui program Majukan Pendidikan Gratis Anak (Mapega) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) guna mengatasi kekurangan tenaga pendidik.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah Nurhaidah di Nabire, Sabtu, mengatakan program Mapega lahir dari persoalan minimnya guru di daerah 3T yang selama ini sulit dijangkau dan kurang diminati tenaga pengajar.
“Guru di daerah 3T sangat sedikit, biasanya tidak betah karena jauh dari infrastruktur. Ini yang menjadi dasar kami menghadirkan program Mapega,” katanya.
Ia menjelaskan pada 2025 pihaknya merekrut 274 guru Mapega, kemudian pada 2026 ditambah 226 guru sehingga total mencapai 500 orang yang ditempatkan di berbagai wilayah 3T di Papua Tengah.
Menurut dia, penempatan guru dilakukan di tujuh kabupaten yang benar-benar mengalami kekurangan tenaga pendidik, dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan di masing-masing daerah.
“Kami tempatkan guru di daerah yang benar-benar tidak ada guru. Penempatan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, guru Mapega direkrut dari kalangan Orang Asli Papua (OAP) karena dinilai lebih mampu bertahan dan beradaptasi di daerah 3T.
Selain itu, proses rekrutmen juga mempertimbangkan asal daerah calon guru agar sesuai dengan wilayah penugasan.
“Misalnya dari Puncak, maka kami rekrut guru Mapega dari Puncak untuk ditempatkan di sana. Begitu juga dengan kabupaten lainnya,” katanya.
Ia menyebutkan Kabupaten Mimika tidak menjadi prioritas penempatan karena memiliki kemampuan anggaran yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhan tenaga guru secara mandiri.
Program tersebut, lanjutnya, merupakan kebijakan strategis pemerintah provinsi dalam mempercepat pemerataan pendidikan, sekaligus mengurangi kesenjangan antarwilayah.
“Gubernur Papua Tengah sangat konsen terhadap pendidikan, sehingga perlu langkah percepatan seperti Mapega ini,” ujarnya.
Selain meningkatkan layanan pendidikan di daerah 3T, program Mapega juga diharapkan dapat mengurangi penumpukan siswa di daerah yang lebih maju seperti Nabire dan Mimika.
Meski demikian, Nurhaidah mengakui program tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan kekurangan guru, namun menjadi langkah prioritas dalam meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah terpencil.
“Mapega memang belum langsung menyelesaikan semua masalah, tetapi ini langkah awal untuk meningkatkan taraf pendidikan di daerah 3T,” katanya.
Pewarta: Ali Nur IchsanEditor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.