Nabire (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Papua Tengah menggandeng Yayasan Syena Ahoro Papua (SAPA) untuk memperkuat kemampuan Bahasa Inggris pelajar menghadapi penerapan mata pelajaran Bahasa Inggris wajib di sekolah yang direncanakan mulai berlaku pada 2027.
Kepala Seksi Data dan Fasilitasi Pendidikan Disdikbud Papua Tengah Medelky Anouw di Nabire, Kamis, mengatakan pemerintah daerah melakukan langkah jemput bola untuk memastikan pelajar Papua Tengah siap menghadapi perubahan kurikulum dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
"Pada 2027 pemerintah melalui Kemendikdasmen akan menjadikan Bahasa Inggris sebagai program wajib dalam kurikulum sekolah sejak tingkat SD. Untuk menyambut kebijakan tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Tengah menghadirkan program kursus ini sebagai landasan awal," katanya.
Ia mengatakan, melalui Yayasan SAPA, Disdikbud Papua Tengah berhasil menjangkau 980 siswa jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK di Kabupaten Nabire, Dogiyai, dan Deiyai. Hal itu melampaui target awal sebanyak 875 peserta.
Menurut dia, penguasaan Bahasa Inggris menjadi keterampilan penting yang perlu dimiliki generasi muda Papua Tengah agar memiliki akses lebih luas terhadap pendidikan, informasi, dan peluang kerja di masa depan.
Ia menjelaskan, program kursus intensif tersebut berlangsung selama satu bulan dan melibatkan 21 sekolah dampingan serta memberikan dampak pembelajaran kepada 10 sekolah lainnya di tiga kabupaten.
Selain itu, guna menjaga kualitas pembelajaran, sebelum pelaksanaan program, Disdikbud Papua Tengah bersama SAPA Foundation juga menggelar pelatihan bagi 16 tutor dan delapan guru melalui kegiatan Capacity Building In-House Training for Tutors and Teachers.
Medelky mengatakan kolaborasi antara pemerintah daerah dan SAPA Foundation diharapkan dapat terus berlanjut untuk memperluas jangkauan program dan meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris pelajar Papua Tengah.
"Melalui kolaborasi ini, kami berharap semakin banyak generasi muda Papua Tengah yang memiliki keterampilan Bahasa Inggris yang baik sehingga mampu membuka akses terhadap pendidikan, informasi, dan peluang yang lebih luas di tingkat nasional maupun internasional," katanya.
Ketua SAPA Foundation Christywella Saroy mengatakan tingginya antusiasme siswa dan sekolah membuat jumlah peserta yang mengikuti program tersebut melebihi target yang ditetapkan.
Ia menjelaskan materi pembelajaran disusun secara interaktif dengan mencakup keterampilan berbicara, mendengar, membaca, dan menulis, serta dilengkapi praktik langsung agar lebih mudah dipahami peserta.
Selain meningkatkan kompetensi berbahasa, program tersebut juga bertujuan membangun kepercayaan diri siswa dalam menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi internasional.
Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di luar jam sekolah reguler dengan durasi tiga hingga empat jam pelajaran setiap hari selama hampir satu bulan sehingga tidak mengganggu proses pembelajaran utama di sekolah.
Sebagai bagian dari evaluasi hasil pembelajaran, penyelenggara juga menggelar kompetisi Bahasa Inggris di ketiga kabupaten yang mencakup berbagai kategori, seperti spelling bee, vocabulary race, sentence building, flash card race, dan picture talk.
Pewarta: Ali Nur IchsanEditor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.