Nabire (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Nabire, Papua Tengah terus memperkuat pemberdayaan anak-anak Suku Auye melalui afirmasi pendidikan sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) terhadap suku atau komunitas adat yang selama ini sulit dijangkau layanan dasar.

Bupati Nabire Mesak Magai di Nabire, Sabtu, mengatakan perhatian terhadap pemberdayaan Suku Auye diwujudkan melalui pembangunan asrama pelajar, penyediaan fasilitas penunjang, hingga membuka peluang kerja bagi lulusan.

“Pemberdayaan Suku Auye ini jadi fokus saya sejak saya menjabat jadi Bupati Nabire periode pertama tahun 2021. Suku Auye ini menjadi suku terasing di Nabire karena mereka memiliki pola hidup nomaden atau berpindah-pindah,” katanya saat meresmikan Asrama Anak Auye.

Kabupaten Nabire memiliki delapan suku asli, terdiri atas enam suku pesisir dan dua suku pegunungan, yaitu Suku Mee dan Suku Auye.

Berbeda dengan suku lainnya, katanya, masyarakat suku Auye yang lebih suka hidup berpindah-pindah membuat mereka sulit mendapatkan akses pendidikan dan layanan kesehatan.

Bahkan saat suku lain dengan SDM yang sudah berkembang, banyak mendapatkan jabatan pemerintahan, hingga menjadi bupati maupun anggota DPR, hingga saat ini baru tiga anak Auye menempuh pendidikan tinggi.

"Satu orang sudah lulus sarjana dan sedang melanjutkan pendidikan S2, sedangkan dua lainnya sedang menyelesaikan studi dan akan segera wisuda," ujarnya.

Ia menjelaskan perubahan perilaku Suku Auye tidak terlepas dari pembinaan dan pendampingan gembala Tuhan, Pendeta Sir John Chr Bani yang selama 22 tahun mengabdikan diri membina masyarakat Suku Auye.

Pendampingan Pendeta John Bani membuat masyarakat Suku Auye saat ini sudah tidak nomaden. Mereka sudah memiliki kampung sendiri sehingga warga dapat teridentifikasi dan anak-anak bisa bersekolah

Untuk itu, Pemkab Nabire membantu Pendeta John Bani membangun asrama anak Auye sebagai bagian dari program afirmasi otonomi khusus bagi masyarakat adat.

Ke depan, pemerintah daerah akan mengembangkan fasilitas asrama, termasuk menyediakan bus sekolah untuk mengantar dan menjemput anak Auye ke sekolah.

Selain itu, Pemkab Nabire memberikan kesempatan kerja bagi dua sarjana Suku Auye menjadi guru kontrak setelah lulus, termasuk perempuan pertama dari Suku Auye yang menempuh pendidikan tinggi.

Ia berharap, semakin banyak generasi muda Auye memperoleh pendidikan sehingga mampu menjadi pemimpin di daerah sendiri.

"Hanya pendidikan yang bisa mengubah kehidupan seseorang. Kalau kita ingin mewujudkan 'Papua Cerdas dan Nabire Cerdas' maka langkah awalnya adalah menyiapkan sarana pendidikan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia," katanya.

Pendeta Sir Joh Chr Bani mengatakan asrama tersebut saat ini menampung 20 anak Suku Auye mulai dari jenjang pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah atas.

Selain mendapatkan akses pendidikan formal di Kota Nabire, anak-anak juga dibina melalui pendidikan karakter, penguatan iman, etika, dan moral sebagai bekal kehidupan mereka di masa depan.

"Kami berusaha menyekolahkan mereka di kota agar memperoleh pendidikan yang lebih baik. Di asrama mereka juga dibina dalam iman, etika hidup, dan moral agar kelak menjadi generasi yang mampu membangun masyarakatnya," katanya.



Pewarta: Ali Nur Ichsan
Editor : Evarianus Supar

COPYRIGHT © ANTARA 2026