Nabire (ANTARA) - Kementerian Pertanian (Kementan) memberikan bantuan 3,6 juta bibit untuk mendukung pengembangan perkebunan kakao seluas 3.000 hektare di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani.
Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Ali Jamil Harahap di Nabire, Selasa, mengatakan pengembangan kakao di Nabire terdiri atas peremajaan seluas 1.000 hektare dan perluasan areal tanam 2.000 hektare.
"Untuk ekstensifikasi 3.000 hektare kakao itu kami harus menyiapkan sekitar 3 juta bibit, termasuk tambahan sekitar 20 persen untuk mengantisipasi kebutuhan di lapangan sehingga total bibit yang kita siapkan sebanyak 3,6 juta bibit," katanya.
Ia menjelaskan langkah awal adalah pembangunan tempat pembibitan (nursery) yang menjadi prioritas agar penyediaan bibit dapat dilakukan tepat waktu sebelum musim tanam.
Pengisian polybag untuk jutaan bibit tersebut ditargetkan selesai dalam waktu dua pekan sehingga proses penyemaian dapat segera dimulai setelah benih tersedia.
"Kami minta pengisian polybag selesai dalam dua minggu. Setelah benih datang langsung disemai dan dipindahkan ke polybag agar tidak menghambat target penanaman," ujar dia.
Ia mengatakan luas area untuk menampung 3,6 juta bibit kakao membutuhkan delapan hektare di wilayah Samabusa, Distrik Teluk Kimi, Nabire.
Kementan mengarahkan agar lokasi pembibitan ditempatkan sedekat mungkin dengan sentra petani sehingga distribusi bibit lebih efisien dan kualitas tanaman tetap terjaga.
"Sesuai arahan Menteri Pertanian, benih harus didekatkan dengan petani agar saat didistribusikan tidak mengalami kerusakan akibat pengangkutan jarak jauh," katanya.
Ia mengatakan program pengembangan kakao tersebut merupakan bagian dari strategi hilirisasi sektor perkebunan yang dicanangkan pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat.
Menurut dia, peningkatan produksi kakao akan menjadi fondasi bagi pengembangan industri pengolahan, mulai dari bubuk kakao, cokelat batangan hingga berbagai produk turunan lainnya yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
"Kalau bahan bakunya tersedia, maka hilirisasi bisa berjalan. Produk kakao tidak lagi dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk akhir yang memberi nilai tambah lebih besar bagi masyarakat," ujar dia.
Ia menambahkan Menteri Pertanian juga mengarahkan agar masyarakat sekitar dilibatkan dalam seluruh tahapan kegiatan, termasuk pembangunan pembibitan, sehingga program tersebut mampu menciptakan lapangan kerja dan menambah pendapatan warga.
Pewarta: Ali Nur IchsanEditor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.