Makassar (ANTARA) - Tim 14 Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin (Unhas) mendorong dan memperkuat pengembangan hilirisasi pala di Kampung Weri dan Saharey, Distrik Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Ketua Tim 14 Ekspedisi Patriot Unhas Ira Taskirawati dalam laporannya diterima di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu, mengatakan selain mengoptimalkan biji dan fuli sebagai produk utama, tim juga melihat peluang pemanfaatan daging buah dan cangkang pala yang selama ini belum memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
“Selain biji dan fuli, potensi pala di Weri dan Saharey menghasilkan daging buah dan cangkang yang selama ini belum dimanfaatkan optimal," ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan kalkulasi awal Tim Ekspedisi Patriot Unhas, setiap 10.000 buah pala berpotensi menghasilkan sekitar 0,79 ton hasil samping dan limbah.
Tim 14 Ekspedisi Patriot Unhas bersama masyarakat dan instansi terkait akan memfokuskan pendampingan pada pemanfaatan hasil samping dan limbah pala.
Program ini juga mencakup penguatan kelembagaan kelompok, pengembangan produk turunan pala, pemetaan akses pasar, serta pendampingan pengelolaan dan budidaya tanaman pala.
Langkah ini diarahkan untuk membangun model hilirisasi yang memperkuat kapasitas dan kelembagaan ekonomi masyarakat.
Lebih jauh, berdasarkan validasi data bersama petani, pemerintah kampung, dan instansi terkait. Pala merupakan salah satu komoditas unggulan Kabupaten Fakfak yang berpeluang untuk dikembangkan. Komoditas ini juga telah memperoleh perlindungan Indikasi Geografis dengan nama Pala Tomandin Fakfak.
Di Kampung Weri dan Saharey, luas kebun masyarakat rata-rata mencapai dua hektare per petani. Produksinya bervariasi, antara 1.000 hingga 40.000 buah pala pada setiap musim panen.
Namun, potensi tersebut masih dihadapkan pada sejumlah kendala. Pengelolaan kebun umumnya dilakukan secara tradisional, sementara petani menghadapi persoalan cuaca, serangan hama, serta keterbatasan akses menuju kebun.
Begitupun keterbatasan pengetahuan teknis, teknologi pengolahan, peralatan, serta akses pasar menjadi sejumlah faktor yang membuat hasil samping pala belum berkembang menjadi produk bernilai ekonomi.
"Ini potensial untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Karena itu, hilirisasi perlu dibangun melalui penguatan kapasitas masyarakat, penerapan teknologi yang sesuai, penguatan kelembagaan, serta pengembangan akses pasar,” ujar Ira.
Pewarta: Abdul KadirEditor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.