Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya (Pemprov PBD) membantu empat minibus sekolah kepada sekolah luar biasa (SLB) yang bersumber dari dana otonomi khusus (otsus) sebagai bagian penting untuk mendukung pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus.
Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu di Sorong, Jumat, mengatakan bantuan empat unit minibus kepada SLB di wilayah Papua Barat Daya guna mempermudah akses transportasi siswa disabilitas ke sekolah.
"Bantuan ini bertujuan menjawab persoalan utama yang selama ini dihadapi siswa SLB, yakni keterbatasan akses transportasi dari rumah ke sekolah," jelasnya saat menyerahkan satu unit minibus kepada SLB Kota Sorong.
Empat unit minibus tersebut masing-masing dialokasikan satu unit untuk SLB Kota Sorong, satu unit untuk SLB Kabupaten Sorong, dan dua unit untuk SLB di Kabupaten Raja Ampat.
Menurutnya, kendaraan ini akan dikelola secara mandiri oleh pihak sekolah yang bertanggung jawab menjemput dan mengantar siswa berkebutuhan khusus dari rumah ke sekolah, serta mengantar kembali setelah kegiatan belajar mengajar selesai.
“Dengan adanya minibus ini, tidak ada lagi alasan anak-anak kita tidak bersekolah hanya karena hujan atau kendala transportasi. Aktivitas belajar mengajar harus tetap berjalan,” tegasnya.
Selain untuk antar-jemput siswa, minibus tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan ekstrakurikuler dan aktivitas sekolah di luar lingkungan sekolah, sehingga pihak SLB tidak lagi kesulitan mencari sarana transportasi.
Gubernur mengakui, bantuan ini belum sepenuhnya menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan anak disabilitas.
"Setidaknya kehadiran kendaraan operasional ini diharapkan mampu meringankan beban orang tua sekaligus meningkatkan kehadiran siswa di sekolah," katanya.
Gubernur mengatakan bahwa SLB merupakan kewenangan pemerintah provinsi. Oleh karena itu, penyediaan sarana dan prasarana, termasuk tenaga pendidik, menjadi tanggung jawab Pemprov PBD.
“Dengan jumlah siswa yang terus meningkat, ruang pengembangan sekolah saat ini sudah cukup terbatas. Ke depan, kita pertimbangkan pembangunan gedung baru atau penambahan lantai untuk menjawab kebutuhan tersebut,” ujarnya.
Mantan Bupati Asmat dua periode itu juga menyoroti meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menyekolahkan anak berkebutuhan khusus.
Jika, kata dia, pada tahun-tahun sebelumnya kesadaran tersebut masih rendah, kini masyarakat semakin memahami bahwa anak disabilitas memiliki kemampuan dan hak yang sama, baik di bidang akademik, olahraga, maupun keterampilan.
“Sekarang semakin banyak orang tua yang berlomba-lomba menyekolahkan anaknya ke SLB. Ini kesadaran yang luar biasa dan harus terus kita dukung,” katanya.
Sementara itu, guru SD Luar Biasa Inpres 73 Kota Sorong, Angger Sukma Nugrahani, menyampaikan apresiasi atas perhatian Pemprov Papua Barat Daya terhadap pendidikan anak berkebutuhan khusus.
“Ini adalah bentuk perhatian nyata pemerintah provinsi kepada kami. Satu unit minibus ini sangat membantu untuk menjemput siswa ke sekolah maupun mendukung kegiatan di luar sekolah,” ujar Angger.
Ia menjelaskan, SD Luar Biasa Inpres 73 Kota Sorong saat ini memiliki 101 siswa dengan beragam latar belakang kebutuhan khusus, mulai dari hambatan penglihatan, pendengaran, intelektual, fisik, hingga autisme dan hiperaktif.
Dia berharap dengan adanya bantuan kendaraan operasional tersebut bisa meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Papua Barat Daya semakin meningkat.
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA News Papua Tengah 2026