Kepala Kantor BPJS Kesehatan Papua Barat Florisnye Tamonob pada peluncuran program tersebut di Manokwari, Rabu, mengatakan, setiap orang berpotensi mengidap penyakit kronis seperti Deabetes melitus, Hipertensi, Ginjal Kronik dan jantung koroner.
Pada fase awal, kata dia, masyarakat Indonesia secara umum sering mengabaikan kejala penyakit tersebut, karena merasa tidak terganggu atas gejalanya.
"Kebanyakan orang barus sadar setelah mereka penyakit yang ia alami sudah masuk pada fase lanjut. Dalam kondisi tersebut, mereka pun panik bahkan sebagai ada yang psimis hingga penyakitnya semakin parah," kata Florisnye.
Dia menjelaskan, fitur aplikasi mobile Screening merupakan layanan baru BPJS. Melalui fitur tersebut, masyarakat bisa melakukan screening riwayat kesehatanya melalui handphone.
"Kalau dulu masyarakat harus datang langsung ke kantor BPJS, namun sekarang lebih efektif. Kita bisa melihat potensi resiko kesehatan kita via handphone yang bisa dibuka kapanpun dan dimanapun,"sebutnya.
Untuk memperoleh aplikasi tersebut, lanjut dia menjelaskan, masyarakat dapat mengunduh di google play store, selanjutnya akan ada petunjuk registrasi dengan mengisi data diri yang dibutuhkan.
Menurutnya, aplikasi tersebut mudah diakses terutama di daerah yang sudah memiliki layanan internet. Analisa dan petunjuk seluruh penyakit dapat diperoleh melalui aplikasi ini.
"Jika sudah terdaftar dan mengklik tombol log in, peserta dapat memilih menu Screening riwayat kesehatan masing-masing. Peserta akan diminta mengisi 47 pertanyaan seputar aktivitas sehari-hari, riwayat penyakit yang pernah diidap hingga pola makan kita," kata dia pula.
Setelah seluruh pertanyaan dijawab, lanjutnya peserta akan memperoleh hasil Screening riwayat kesehatannya saat itu juga.
Selain hasil screening, peserta pun akan mendapat saran atau tips untuk meminimalisir resiko serta mencegah agar gejala penyakit tersebut tidak memburuk.
"Jika potensinya rendah, peserta akan disarankan untuk menjaga pola hidup sehat dan melakukan latihan fisik rutin minimal 30 menit setiap hari," sebutnya.
Namun jika hasilnya sedang atau tinggi, ujarnya lagi, peserta akan memperoleh nomor legalisasi atau nomor screening skunder serta diarahkan untuk mengunjungi fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).(*)
Pewarta: Toyiban:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.