Jakarta (ANTARA) - Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dinilai mampu mengembalikan kejayaan sektor perikanan tangkap di Tanah Papua, sekaligus menjadikan wilayah tersebut sebagai lumbung tuna terbesar di kawasan timur Indonesia.
Anggota Komisi IV DPR RI Robert J. Kardinal dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, menyebutkan potensi perikanan tangkap Papua sangat melimpah, terutama di tiga titik kawasan strategis yang selama ini belum tersentuh program nasional.
Tiga kawasan itu yakni Distrik Kepulauan Ayau di Kabupaten Raja Ampat Papua Barat Daya; Kepulauan Auri di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat; serta perairan Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Supiori, Provinsi Papua.
"Tiga kawasan tersebut, memiliki nilai strategis ganda sebagai sentra produksi sekaligus kawasan pertahanan terluar negara berbasis masyarakat nelayan," ujar dia.
Terkait hal itu anggota dewan daerah pemilihan Papua itu menegaskan pemerintah perlu memberi perhatian khusus pada wilayah yang memiliki sumber daya ikan terbesar di Papua.
“Tiga titik di Papua ini harus menjadi prioritas Kampung Nelayan Merah Putih karena potensi ikannya sangat besar dan bisa menjadi motor kebangkitan industri perikanan di kawasan timur Indonesia," katanya.
Menurut dia, tiga wilayah tersebut merupakan pusat perikanan tuna sirip kuning atau yellowfin tuna yang selama ini belum dikelola secara maksimal, selain itu merupakan gugusan pulau terluar di wilayah utara Papua yang secara geografis lebih dekat ke negara tetangga dibanding pusat pemerintahan di Papua.
"Kenapa penting mendirikan Kampung Nelayan Merah Putih di tiga kabupaten itu karena lokasi-lokasi tersebut merupakan pulau-pulau terluar di Tanah Papua bagian utara. Jadi mestinya kampung nelayan merah putih dibuat di situ supaya Merah Putih berkibar di situ," katanya.
Ia menambahkan, kawasan-kawasan itu menyimpan kekayaan laut yang sangat melimpah mulai dari tuna, cakalang, kerapu, rumput laut hingga teripang, mayoritas masyarakat setempat pun menggantungkan hidupnya dari sektor kelautan dan perikanan.
Oleh karena itu, pembangunan KNMP di tiga titik tersebut bukan sekadar meningkatkan produksi perikanan dan hilirisasi ikan, melainkan juga memperkuat pertahanan terluar negara berbasis masyarakat nelayan.
Robert mengungkapkan kawasan Kepulauan Mapia atau Pulau Beras di Kabupaten Supiori pernah menjadi salah satu penghasil tuna terbesar di Papua dengan adanya perusahaan pengalengan ikan PT Biak Mina Jaya, anak group Jayanti.
Usaha tuna itu. menurut dia, mampu mempekerjakan ribuan tenaga kerja asli Papua dan menjadikan Biak Numfor sebagai salah satu pusat industri perikanan terbesar di Indonesia timur.
Selain itu melalui kehadiran perusahaan milik negara PT Usaha Mina di Sorong yang pada masanya mampu mengekspor tuna dan cakalang langsung ke Jepang.
PT Usaha Mina pada masa lalu memiliki banyak cabang di sentra-sentra perikanan nasional seperti Sorong, Bacan, Ternate, Fakfak, Ambon, Gorontalo, Luwuk hingga Makassar.
Selain itu, tambahnya, juga keberadaan PT West Irian Fisheries (WIF), perusahaan perikanan asal Jepang yang bekerja sama dengan pelaku usaha anak asli Papua yang pernah menjadi roda penggerak ekonomi utama di wilayah tersebut.
Menurutnya, jejak pembangunan industri perikanan era tersebut harus dihidupkan kembali melalui sinergi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Badan Pengaturan (BP) Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Ia menilai kampung-kampung nelayan yang dibangun Pemerintah nantinya dapat terhubung dengan fasilitas-fasilitas eks Usaha Mina sebagai pusat pengumpulan dan ekspor hasil tangkapan nelayan dari Papua.
"Papua pernah punya industri perikanan besar lewat Jayanti, Usaha Mina, dan WIF. Itu bukti bahwa kalau dikelola serius, Papua bisa menjadi kekuatan besar industri perikanan nasional. Kampung Nelayan Merah Putih harus menjadi titik awal menghidupkan kembali kejayaan itu,” katanya.
Robert meyakini jika pemerintah serius menempatkan program KNMP di Raja Ampat, Teluk Wondama, dan Biak Numfor-Supiori, maka Papua dapat kembali menjadi pusat industri tuna nasional seperti masa kejayaan industri perikanan di era ketiga perusahaan tersebut.
Dia mendukung target KKP yang akan membangun lebih dari 1.000 KNMP pada 2026, namun hingga kini dari 65 lokasi KNMP yang telah dibangun di berbagai wilayah Indonesia, belum satu pun menyentuh Papua.
"Kalau tiga titik ini dibangun Kampung Nelayan Merah Putih, saya yakin Papua bisa kembali menjadi lumbung tuna terbesar di kawasan timur Indonesia," katanya.
Pewarta: SubagyoEditor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026