Kita semua harus bersyukur karena anggaran yang dikurangi hanya 15 persen. Seandainya lebih dari itu atau tiba-tiba terhenti total, wah itu bisa celaka besar
Timika (ANTARA) - Insiden longsor longsor di area tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia (PTFI) Tembagapura pada 8 September 2025 memberikan dampak yang cukup besar terhadap pelaksanaan program Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) tahun 2026.
Ketua Pengurus YPMAK Leonardus Tumuka di Timika, Minggu, mengatakan sebagai lembaga pengelola dana kemitraan PTFI, tahun ini YPMAK mengalami pengurangan alokasi anggaran sekitar 15 persen dari anggaran yang diterima pada 2025.
"Dampak dari kejadian itu besar sekali bagi YPMAK. Kami tidak bisa lagi membuat program-program baru, hanya meneruskan program-program sebelumnya saja. Ada banyak hal yang tidak bisa kami lakukan secara maksimal terutama di bidang pelayanan kesehatan, pendidikan dan ekonomi masyarakat," kata Leonardus.
Salah satu dampak terbesar dari berkurangnya kucuran dana kemitraan PTFI ke YPMAK tahun ini, kata Leonardus, yaitu tidak adanya penerimaan kuota beasiswa baru untuk para pelajar dan mahasiswa Amungme dan Kamoro serta lima suku kekerabatan.
"Tahun ini kuota untuk beasiswa baru hampir tidak ada. Kalaupun nantinya ada yang bisa mendapatkan bantuan, itu untuk menggantikan mereka yang sudah tamat. Yang menggantikan ini juga jumlahnya tidak banyak," beber Leonardus.
Menyikapi kondisi itu, Leonardus meminta semua pihak agar tetap bersyukur bahwa PTFI masih tetap menyalurkan dana kemitraan bagi masyarakat Amungme-Kamoro serta lima suku kekerabatan di Mimika, di tengah situasi sulit yang dihadapi perusahaan saat ini.
"Kita semua harus bersyukur karena anggaran yang dikurangi hanya 15 persen. Seandainya lebih dari itu atau tiba-tiba terhenti total, wah itu bisa celaka besar," tutur Leonardus.
Dia berharap operasi pertambangan PTFI di wilayah Tembagapura, Mimika, Papua Tengah bisa secepatnya pulih kembali sehingga masyarakat Suku Amungme dan Kamoro serta lima kekerabatan suku Papua di Mimika bisa merasakan manfaat dari alokasi dana kemitraan PTFI.
"Kita semua berdoa dan mendukung agar aktivitas di Freeport supaya cepat pulih lalu dampaknya bisa masyarakat rasakan selanjutnya," ujarnya.
Leonardus juga mengingatkan semua pihak agar menyadari keterbasan sumber daya alam yang saat ini dikelola oleh perusahaan.
"Berapa pun besar sumber daya alam yang kita punya, suatu saat akan habis juga. Kita bersyukur bantuan yang diberikan Freeport melalui dana kemitraan itu sudah berjalan lebih dari 29 tahun. Tapi kita semua jangan terlena," ujar putra asli Suku Kamoro yang meraih gelar doktor di University of the Philippine Los Banos, Laguna, Filipina pada 2015 itu.
Khusus kepada generasi muda Amungme-Kamoro penerima program bantuan pendidikan dari YPMAK, Leonardus berpesan agar mereka bersekolah dengan giat dan tekun.
"Adik-adik yang sedang sekolah atau kuliah, sekolahlah yang baik dan bijaksana menggunakan uang. Jangan bersantai-santai di kota studi, tidak belajar sungguh-sungguh, malah sibuk dengan hal-hal yang negatif misalnya mabuk, nanti kalian rugi sendiri," kata Leonardus mengingatkan.
Saat ini terdapat lebih dari 4.000 penerima bantuan pendidikan dari YPMAK yang tengah bersekolah dan kuliah mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi dan tersebar di berbagai kota studi mulai dari Papua hingga luar Papua.
Leonardus berharap generasi muda Amungme-Kamoro dan suku Papua lainnya yang mendapatkan bantuan pendidikan bisa berhasil dalam pembelajarannya sehingga kelak bisa kembali untuk membangun Tanah Papua.
"YPMAK mau menghasilkan anak-anak Amungme-Kamoro dan Papua yang lain yang betul-betul berprestasi dan pulang membangun daerahnya sendiri. Manfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya," tutur Leonardus.
Untuk diketahui, longsor yang menimpa lokasi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) PTFI pada 8 September 2025 dipicu oleh aliran sekitar 800.000 metrik ton material lumpur basah yang menutupi akses dan menjebak tujuh pekerja.
Insiden itu mengakibatkan operasional tambang PTFI sempat terhenti selama beberapa bulan dan diperkirakan baru akan pulih sepenuhnya pada pertengahan hingga akhir tahun 2026.
Pewarta: Marselinus NaraEditor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.