Direktur RSUD Sele Be Solu, drg. Susi Petronela Jitmau, menyebut pembangunan Gedung Kanker, Jantung, Stroke dan Uro-Nefrologi (KJSU) di rumah sakit tersebut menelan anggaran sebesar Rp12,825 miliar dan kini progresnya telah mencapai 89 persen.
"Pembangunan gedung KJSU itu merupakan bagian dari program strategis nasional pemerintah pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Bidang Kesehatan yang bertujuan meningkatkan kapasitas layanan rujukan penyakit katastropik di daerah," jelasnya di Sorong, Papua Barat Daya, Kamis.
Menurut dia, gedung KJSU menjadi syarat utama bagi RSUD Sele Be Solu untuk memperoleh hibah alat kesehatan canggih dari Kementerian Kesehatan RI, seperti CT Scan, Cath Lab, serta peralatan penunjang penanganan kanker, jantung, stroke, dan uro-nefrologi.
“Persiapan gedung ini harus tuntas karena menjadi persyaratan utama untuk mendapatkan hibah alat kesehatan tersebut,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program tersebut merupakan inisiatif strategis pemerintah dalam memodernisasi dan memperkuat sistem rujukan layanan kesehatan nasional, dengan fokus pada peningkatan akses diagnosis dan pengobatan penyakit prioritas, termasuk layanan kesehatan ibu dan anak (KIA).
Pembangunan gedung KJSU dilakukan dengan konstruksi dua lantai seluas 1.080 meter persegi. Hingga akhir tahun anggaran 2025, progres fisik telah mencapai 89 persen.
Susi mengakui pembangunan sempat mengalami keterlambatan akibat curah hujan tinggi yang memengaruhi pekerjaan konstruksi.
Namun, pihak penyedia telah memperoleh tambahan waktu dan ditargetkan penyelesaian pembangunan rampung pada akhir Februari 2026.
Setelah gedung selesai dibangun, pengadaan alat kesehatan akan dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dan dihibahkan kepada RSUD Sele Be Solu sebagai salah satu rumah sakit penerima DAK Fisik yang memenuhi persyaratan program.
Dengan hadirnya gedung dan peralatan medis modern tersebut, RSUD Sele Be Solu diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan rujukan tingkat lanjut serta memperluas akses masyarakat terhadap penanganan penyakit katastropik secara komprehensif.
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA News Papua Tengah 2026