Manokwari (ANTARA) - Sebanyak 103 siswa baru SMA Negeri Taruna Kasuari Nusantara, Manokwari, Papua Barat menjalani masa basis selama tiga bulan ke depan usai menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Sekretaris Panitia MPLS SMA Taruna Kasuari Nusantara Djamaluddin, di Manokwari, Kamis, mengatakan selama masa basis para siswa akan mendapatkan pelatihan 70 persen yang berpusat pada otot dan 30 memusatkan kerja otak atau pelajaran di kelas.
"Mengingat sekolah ini semi militer dan mereka dibentuk agar tidak membawa sifat anak-anak seperti ketika mereka masih SMP. Kalau masa basis sudah dilewati, maka persentasenya akan terbalik," kata Djamaluddin.
Para ssiwa baru SMA Taruna Kasuari sejak MPLS bergulir sampai masa basis nantinya tidak diperkenankan bermain telefon genggam dan keluarga hanya diperkenankan mengunjungi anaknya setiap hari Sabtu tanpa dibolehkan membawa bekal.
"Karena di sini mereka juga diberikan makanan dan sudah diatur agar mereka punya porsi yang seimbang. Misalnya jika ada yang memiliki berat badan diharapkan makan di sini biar punya berat ideal," jelasnya.
Selama masa basis, lanjut Djamaluddin para siswa akan tinggal di asrama yang telah disediakan. Sejak 15 Juli lalu para siswa tidak diperbolehkan pulang ke rumah sampai masa basis selesai, termasuk tidak diizinkan memegang telefon genggam.
"Selama masa basis setiap pekannya mereka akan diukur tinggi dan berat badan dengan target ideal," kata Djamaluddin.
Djamaluddin berharap para pelajar serius mengikuti MPLS dan masa basis untuk pembentukan karakter karena mereka merupakan anak-anak yang terpilih dan dibiayai 100 persen oleh Pemerintah Provinsi Papua Barat.
"Pakaiannya pun ditanggung oleh Pemerintah Papua Barat," ujar Djamaluddin.
Sebanyak 103 siswa baru SMA Negeri Taruna Kasuari dibagi dalam tiga rombongan belajar. Mereka merupakan angkatan kedua, sedangkan angkatan pertama sekolah ini berjumlah hanya 74 orang.
Djamaluddin mengatakan 80 persen siswa yang dikrekrut merupakan Orang Asli Papua Barat dari sejumlah kabupaten dan 20 persen warga non Papua. Siswa terbanyak berasal dari Manokwari, sedangkan paling sedikit datang dari Kabupaten Tambrauw yang mengirim dua siswa.
