Nabire (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Papua Tengah memfokuskan pengembangan pendidikan vokasi di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Papua Tengah guna mendorong kemandirian anak berkebutuhan khusus.

Kepala Dinas Pendidikan Papua Tengah Nurhaidah Nawipa di Nabire, Sabtu, mengatakan kehadiran SLB Negeri Pembina diharapkan dapat menjadi pusat layanan pendidikan inklusif yang mudah diakses masyarakat.

“Kami ingin anak-anak berkebutuhan khusus mendapatkan kesempatan yang sama seperti anak lainnya dengan pendidikan vokasi,” ujarnya.

Menurut dia, kehadiran SLB diharapkan mampu mendorong anak-anak berkebutuhan khusus berkembang, mandiri, dan berprestasi, sekaligus mengubah cara pandang masyarakat agar lebih inklusif.

Ia menjelaskan pihaknya terus menyosialisasikan keberadaan SLB tersebut kepada guru dan orang tua agar mendaftarkan anak-anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendidikan yang layak.

“Jika ada anak dari kabupaten lain, SLB juga menyiapkan asrama. Termasuk bagi anak yang rumahnya jauh dari lokasi sekolah,” katanya.

Sementara itu, Kepala SLB Negeri Pembina Papua Tengah Syaiful mengatakan sekolah tersebut siap beroperasi dan akan membuka penerimaan peserta didik baru pada tahun ajaran 2026 yang dimulai Juli.

Ia menjelaskan, pada tahap awal akan dibuka sembilan kelas yang mencakup berbagai kebutuhan, seperti hambatan pendengaran, penglihatan, fisik, sosial emosional, serta kebutuhan khusus lainnya.

“SLB ini melayani jenjang pendidikan mulai dari TK hingga SMA. Semakin dini anak mendapat layanan pendidikan, maka hasilnya akan semakin baik,” katanya.

Saat ini, kata dia, terdapat tujuh tenaga pengajar, termasuk empat guru spesialis pendidikan kebutuhan khusus yang didatangkan dari Makassar.

Syaiful menuturkan konsep pendidikan di SLB Negeri Pembina difokuskan pada pendidikan vokasi yang menyerupai model sekolah menengah kejuruan (SMK).

“Tujuannya agar anak-anak memiliki keterampilan saat lulus, sehingga mampu mandiri dan bahkan membuka usaha sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan porsi pembelajaran di tingkat SMP telah difokuskan pada penguatan vokasi sejak kelas VII, dengan komposisi sekitar 60 persen praktik keterampilan dan 40 persen pendidikan formal.

Adapun bidang vokasi yang dikembangkan meliputi tata boga, pertanian, perikanan, menjahit, hingga kecantikan.

“Kami akan melihat bakat masing-masing anak, lalu diarahkan ke bidang vokasi sesuai minat mereka,” katanya.



Pewarta: Ali Nur Ichsan
Editor : Evarianus Supar

COPYRIGHT © ANTARA 2026