Anggi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat, memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dengan mengenakan busana adat sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus memperkuat identitas peserta didik.
Wakil Bupati Pegunungan Arfak Andy Salabai di Anggi, Sabtu, mengatakan penggunaan busana adat dalam upacara peringatan Hardiknas menjadi simbol penghormatan terhadap kearifan lokal agar tidak tergerus arus modernisasi.
"Adat istiadat dan kebudayaan tidak boleh hilang. Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa harus bisa merawatnya," kata Salabai.
Menurut dia, perayaan Hardiknas bukan hanya menjadi ajang refleksi perkembangan pendidikan, tetapi sarana menanamkan nilai budaya bagi generasi muda agar tidak meninggalkan tradisi yang sudah diwariskan sejak dahulu.
Implementasi kurikulum nasional yang dipadukan dengan pendekatan pendidikan berbasis budaya lokal berdampak positif terhadap penguatan karakter dan jati diri setiap peserta didik, khususnya di wilayah Pegunungan Arfak.
"Masyarakat Pegunungan Arfak hidup dalam balutan adat dan budaya yang kuat. Misalnya, setiap ada tamu datang ke Arfak pasti disambut dengan tarian," kata Salabai.
Dalam kesempatan itu, Salabai mengakui bahwa peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di Pegunungan Arfak menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan sarana prasarana, dan jumlah tenaga guru belum merata.
Pemerintah daerah terus berupaya melakukan perbaikan bertahap guna menjawab tuntutan dunia pendidikan, namun hal tersebut membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk kementerian/lembaga dan masyarakat.
"Mari bergandengan tangan membangun pendidikan yang inklusif dan bermutu di Pegunungan Arfak," ucap Salabai.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Pegunungan Arfak Deny Agustinus Ngutra menyebut, partisipasi aktif sekolah mengenakan busana adat menunjukkan komitmen bersama mengintegrasikan keberagaman budaya ke dalam sistem pendidikan.
Peringatan Hardiknas 2026 juga diisi dengan berbagai kegiatan yang melibatkan peserta didik dari jenjang PAUD hingga SMA, seperti lomba mewarnai, bertutur cerita rakyat, membaca nyaring, membaca puisi, dan berpidato.
"Salah satu item lomba yaitu bertutur cerita rakyat, sebagai upaya memperkuat pengetahuan pelajar tentang kearifan lokal," ucap Deny.
Ia menyebut perlombaan yang digelar pada 30 April-1 Mei 2026 merupakan strategi pemerintah daerah mendorong penguatan literasi dan numerasi pelajar sejak usia dini secara berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Pihaknya menilai pendekatan berbasis kegiatan kompetitif seperti perlombaan jauh lebih efektif untuk mengukur capaian dari kegiatan belajar dan mengajar di seluruh satuan pendidikan, sekaligus meningkatkan minat baca.
Pewarta: Fransiskus Salu WekingEditor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026