Sorong (ANTARA) - Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya mendorong penguatan peran adat dan budaya sebagai upaya menjaga stabilitas sosial di wilayah Sorong Raya.

Ketua LMA Kota Sorong Thomas Malak di Sorong, Senin, mengatakan bahwa meningkatnya dinamika sosial dan pembangunan di Papua Barat Daya membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk lembaga adat, agar tetap terjaga dalam koridor kedamaian.

Ia menegaskan bahwa adat dan budaya dapat menjadi jembatan penyelesaian berbagai persoalan sosial yang terjadi di masyarakat.

“Kalau kita mau damai di Papua Barat Daya, kuncinya satu, kembalikan ke adat. Hukum adat dan hukum pemerintah bisa menjadi jembatan alternatif dalam penyelesaian masalah,” ujarnya.

Thomas menjelaskan nilai-nilai adat seperti saling menghormati, musyawarah, dan gotong royong merupakan prinsip yang diwariskan leluhur dan masih relevan diterapkan dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Ia mencontohkan berbagai konflik seperti sengketa tanah, kecelakaan, hingga perselisihan antar-warga dapat diselesaikan melalui pendekatan musyawarah berbasis adat.

“Kalau kita pakai adat, tidak ada yang merasa kalah. Semua menang karena damai,” katanya.

Menurut dia, Papua Barat Daya yang terdiri atas beragam suku dan agama membutuhkan nilai pemersatu, sedangkan adat serta budaya dapat menjadi perekat tersebut.

Ia juga mengajak generasi muda, kalangan intelektual, tokoh agama, dan tokoh adat untuk tidak ragu mengedepankan pendekatan adat dalam penyelesaian masalah.

Ia menilai pemahaman terhadap adat perlu ditanamkan sejak dini agar nilai-nilai tersebut tetap hidup dan menjadi fondasi kedamaian.

“Anak muda harus jadi duta adat. Kalau adat punah, maka kedamaian juga ikut punah,” ujarnya.

Selain itu, ia meminta Pemerintah Kota Sorong dan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya untuk menjadikan hukum adat sebagai bagian dari dasar kebijakan yang berjalan seiring dengan hukum pemerintah.

Menurutnya, setiap program yang berkaitan dengan adat dan budaya perlu mengintegrasikan kedua sistem hukum tersebut secara harmonis.

Thomas berharap, penguatan peran adat tidak hanya menjadi wacana, tetapi diwujudkan melalui pendidikan dan praktik kehidupan sehari-hari, khususnya bagi generasi muda.

“Adat itu jangkar. Kalau jangkarnya kuat, kapal Papua Barat Daya bisa melaju tanpa takut karam. Mari kita jaga bersama,” katanya.



Pewarta: Yuvensius Lasa Banafanu
Editor : Evarianus Supar

COPYRIGHT © ANTARA 2026