Jakarta (ANTARA) - Pagi itu di sebuah sekolah menengah kejuruan di Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dimulai dengan suara generator yang baru dinyalakan.

Di papan tulis yang mengeluarkan cahaya, seorang guru tengah asyik menuliskan materi bagaimana mengubah terik matahari menjadi listrik yang menerangi kandang-kandang sapi lewat teknologi panel surya.

Sementara di sudut ruangan kelas lainnya, beberapa perangkat komputer tersambung ke jaringan.

Pemandangan yang demikian, utamanya di kawasan timur Indonesia, mungkin sulit dibayangkan pada beberapa tahun lalu. Kenyataan itu akhirnya perlahan menjadi bagian dari perubahan yang diupayakan Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Di kawasan timur Indonesia, termasuk Provinsi Nusa Tenggara Timur, tantangan pendidikan bukan hanya soal bangunan sekolah.

Adalah sistem, akses, hingga distribusi tenaga pengajar tak ubahnya benang kusut yang harus diurai satu demi satu.

Karena itu, Kemendikdasmen dalam setahun terakhir mencoba menggeser pendekatan yang dilakukan agar intervensi lebih terarah.

Salah satu langkah menonjol yang dilakukan Kemendikdasmen ialah menghadirkan program revitalisasi satuan pendidikan.

Sepanjang tahun 2025, ratusan sekolah di kawasan timur Indonesia mulai mendapatkan perbaikan fisik, mulai dari ruang kelas, laboratorium, musholla hingga bilik toilet yang dulu kerap tidak beratap.

Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kemendikdasmen telah menghadirkan ruang-ruang belajar yang lebih layak bagi para murid di 576 satuan pendidikan.

Tidak sekedar memperbaiki bangunan fisik, ia juga ikut memacu pemerataan digitalisasi pendidikan di kawasan timur Indonesia.

Setidaknya, Kemendikdasmen telah membagikan sebanyak 14 ribu unit papan tulis digital (IFP) lengkap dengan ekosistem pendukungnya kepada satuan pendidikan jenjang SMA di provinsi yang sama pada rentang tahun yang sama.

Lewat papan IFP itu, Kemendikdasmen mentransformasi ruang-ruang kelas menjadi lebih interaktif dan menyenangkan, bahkan mampu memperbaiki kesenjangan literasi dan numerasi di wilayah tersebut.

Di ruang kelas yang dulu hanya mengandalkan buku cetak terbatas, para murid yang tersebar di pulau-pulau kecil kini mulai bersentuhan dengan perangkat digital yang menjadi pintu ajaib menuju berbagai sumber pembelajaran.

Sementara untuk meluaskan akses terhadap layanan pendidikan di provinsi itu, Kemendikdasmen turut menambah jumlah penerima beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM).

Sepanjang tahun 2025, beasiswa tersebut telah memberikan kesempatan kepada 100 murid yang datang dari Kabupaten Belu, Lembata, Manggarai Timur, Sabu Raijua, hingga Sumba Tengah untuk mengenyam pendidikan gratis di 11 sekolah unggulan Kota Kupang.

Pendekatan lain yang juga turut diperkuat ialah peningkatan kesejahteraan hingga pengembangan kompetensi ratusan ribu guru yang mengabdi di kawasan timur Indonesia.

Di kawasan itu, guru tak jarang memainkan peran lebih dari sekadar pengajar, yaitu menjadi penggerak komunitas, penyambung informasi, bahkan penjaga semangat belajar di tengah keterbatasan.

Dukungan terhadap mereka jelas menjadi kunci dalam menjaga kualitas pendidikan tetap tumbuh.

Karena itu, Kemendikdasmen terus memacu peningkatan jumlah penerima tunjang profesi guru (TPG) di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang penerimanya bertambah menjadi 49 ribu pada tahun 2025.

Namun begitu, di balik berbagai program dan angka capaian itu, pendidikan tetaplah tentang manusia.

Tentang siswa yang tetap berjalan jauh demi sekolah, tentang guru yang mengajar dengan segala keterbatasan, dan tentang masyarakat yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk masa depan yang lebih baik.

Masih ada jalan panjang yang harus ditempuh karena kesenjangan belum sepenuhnya teratasi, dan tantangan geografis akan selalu menjadi bagian dari cerita pendidikan di negeri kepulauan.


Gotong royong empat pusat pendidikan

Dalam pidatonya pada peringatan Hari Pendidikan Nasional di Jakarta, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan pihaknya telah berupaya meletakkan fondasi pendidikan bermutu untuk semua melalui berbagai regulasi dan ekosistem.

Regulasi dan ekosistem itu, kata dia, mengintegrasikan empat pusat pendidikan, yaitu sekolah, keluarga, masyarakat, dan media.

Ia mengakui pihaknya tidak akan pernah mampu untuk bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat, dunia usaha, dan lembaga-lembaga yang berkomitmen memajukan pendidikan di Tanah Air.

“Kementerian menyampaikan terima kasih kepada semua pihak, lembaga-lembaga mitra di dalam dan luar negeri yang selama ini telah bekerja sama dengan baik,” kata Mu'ti.

Ia juga mengatakan berbagai kebijakan peningkatan mutu pendidikan tidak akan terlaksana tanpa 3M: Mindset (pola pikir) yang maju, Mental yang kuat, dan Misi yang lurus.

“Tanpa ketiganya, semua kebijakan itu hanya akan berhenti sebagaı program đan formalıtas yang sekadar ditandai dengan capaian angka-angka kuantitatif,” katanya.

Karena itu, gotong royong yang sudah dilakukan pihaknya bersama empat pusat pendidikan hari ini hanyalah awal untuk perbaikan yang berkelanjutan.

Setiap sekolah yang diperbaiki, setiap guru yang didukung, dan setiap siswa yang diberi akses belajar bukanlah kerja Kemendikdasmen semata, melainkan ikhtiar kolektif guna memastikan pendidikan benar-benar menjadi hak semua anak bangsa hari ini dan esok.

Dari timur Indonesia, refleksi mengenai Hari Pendidikan Nasional terasa sederhana, namun kuat:

Perihal pendidikan bukan hanya tentang apa yang telah dicapai, namun juga tentang komitmen untuk terus bergerak memperbaiki.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menjaga nyala dari Timur: Ikhtiar dan harapan di hari pendidikan 

Editor : Evarianus Supar

COPYRIGHT © ANTARA 2026