Manokwari (ANTARA) - PT Pertamina Patra Niaga mencatat kuota minyak tanah bersubsidi untuk tujuh kabupaten di Provinsi Papua Barat pada 2026 mengalami penambahan sebanyak 2.066 kiloliter, sehingga total alokasi komoditas energi tersebut mencapai 27.182 kiloliter (Kl).

Sales Branch Manager Pertamina Patra Niaga Papua Barat Ahmad Sofyan Halim di Manokwari, Selasa,, mengatakan penambahan alokasi bermaksud menjaga ketersediaan energi rumah tangga karena tingkat konsumsi minyak tanah mencapai 95 persen.

“Tingkat konsumsi minyak tanah di Papua Barat lebih tinggi dibanding liquified petroleum gas (LPG) yang kurang lebih hanya 5 persen,” kata Sofyan.

Ia memerinci, alokasi minyak tanah untuk Manokwari sebanyak 11.469 kiloliter, Fakfak 5.908 kiloliter, Teluk Bintuni 3.626 kiloliter, Kaimana 2.800 kiloliter, Manokwari Selatan 1.429 kiloliter, Teluk Wondama 1.274 kiloliter, dan Pegunungan Arfak 676 kiloliter.

Realisasi penyaluran kepada masyarakat terhitung sejak Januari hingga April 2026 telah mencapai 7.898 kiloliter atau 29 persen (year to date) dari total kuota yang dialokasikan oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).

“Apabila tingkat konsumsinya masih sama, maka prognosa realisasi tahun 2026 sebanyak 92 persen. Artinya, stok minyak tanah di Papua Barat masih surplus,” ujarnya.

Saat ini, kata dia, Pertamina juga sudah menyiapkan skenario mitigasi apabila terjadi kelangkaan LPG seiring dengan ketegangan geopolitik global yang mengharuskan peralihan penuh konsumsi energi rumah tangga ke minyak tanah.

Skenario peralihan sementara untuk penggunaan minyak tanah menggantikan LPG difokuskan pada wilayah dengan tingkat konsumsi tertinggi di Papua Barat, seperti Manokwari, Fakfak, dan Teluk Bintuni.

“Kami sudah hitung prognosa mitigasi peralihan dalam periode tiga bulan ke depan sebanyak 421 kiloliter,” ujarnya.



Pewarta: Fransiskus Salu Weking
Editor : Evarianus Supar

COPYRIGHT © ANTARA 2026