Nabire (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Papua Tengah terus meningkatkan akses pendidikan melalui Program Sekolah Sepanjang Hari (SSH) dan pendidikan berpola asrama guna menekan angka putus sekolah sekaligus mempercepat pembangunan sumber daya manusia di wilayah tersebut.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah Nurhaidah di Nabire, Senin, mengatakan Program SSH telah dijalankan sebagai salah satu strategi meningkatkan kualitas pendidikan, pembentukan karakter, literasi, numerasi, hingga pemenuhan gizi peserta didik.
"Program SSH menjadi salah satu program prioritas Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Tengah untuk meningkatkan kualitas pendidikan, gizi siswa, pembentukan karakter, penguatan literasi dan numerasi, serta pembinaan peserta didik secara menyeluruh," katanya.
Ia menjelaskan, SSH berbeda dengan sekolah berpola asrama. Para siswa tidak menginap di asrama namun menghabiskan waktu lebih lama di sekolah dari pagi hingga sore untuk mengikuti kegiatan akademik, pembinaan karakter, kreativitas, dan keterampilan.
Menurut dia, Program SSH hadir untuk menjawab berbagai tantangan pendidikan di Papua Tengah, mulai dari rendahnya waktu belajar efektif, tingginya angka putus sekolah, keterbatasan pengawasan siswa, hingga kesenjangan mutu pendidikan antar wilayah.
Pada 2025, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah menetapkan 10 sekolah dasar sebagai proyek percontohan SSH yang tersebar di delapan kabupaten dengan jumlah peserta didik yang terlayani mencapai 2.021 siswa.
Selain SSH, pemerintah daerah juga mengembangkan pendidikan berpola asrama sebagai upaya mempertahankan anak-anak agar tetap bersekolah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Ia menjelaskan, sejak 2025 pihaknya telah membiayai 13 asrama yang dikelola lembaga keagamaan di Papua Tengah dengan jumlah penghuni sebanyak 1.009 siswa yang tersebar di enam kabupaten.
"Salah satu pendekatan agar anak tetap sekolah, tidak putus sekolah dan tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang berikut adalah melalui sekolah berpola asrama," ujarnya.
Ia mengatakan, pemerintah provinsi juga memfasilitasi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu melalui kerja sama dengan sejumlah lembaga pendidikan, di antaranya Sekolah Genius Tangerang, Meepa Boarding School di Nabire dan SMA Meepago di Nabire.
Menurut dia, keberhasilan peningkatan akses pendidikan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah kabupaten, yayasan pendidikan, dan lembaga keagamaan yang selama ini menjadi penyelenggara pendidikan di Papua Tengah.
Ia menambahkan, yayasan pelopor pendidikan seperti YPPGI, YPPK, dan YPK memiliki peran penting karena mengelola banyak sekolah di wilayah pedalaman maupun pesisir Papua Tengah.
"Mereka adalah mitra penting bagi kami untuk mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua anak di Papua Tengah ke depan," katanya.
Ia berharap program tersebut dapat meningkatkan akses anak terhadap pendidikan, memperkuat kualitas pembelajaran, meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi, serta mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Papua Tengah.
Pewarta: Ali Nur IchsanEditor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026