Sorong (ANTARA) - Gubernur Papua Barat Daya (PBD) Elisa Kambu mengatakan Rumah Bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Sorong diharapkan menjadi wadah bagi para dokter untuk merumuskan berbagai solusi terhadap persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat di wilayah tersebut.
"Tempat ini diharapkan menjadi ruang berkumpulnya para dokter untuk mendiskusikan berbagai persoalan kesehatan di Papua Barat Daya, menghasilkan rekomendasi, serta menyusun rencana tindak lanjut yang dapat dijadikan dasar pengambilan kebijakan," kata Gubernur Elisa Kambu saat meresmikan Rumah Bersama IDI Cabang Sorong di Kabupaten Sorong, Senin.
Menurut Elisa, keberadaan Rumah Bersama IDI memiliki peran strategis sebagai pusat koordinasi, konsolidasi, dan pengembangan gagasan di bidang kesehatan guna mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan di Papua Barat Daya.
Ia menjelaskan fasilitas tersebut dapat menjadi sarana bagi para dokter untuk berbagi pengalaman, membahas tantangan pelayanan kesehatan di lapangan, serta menyusun langkah-langkah penanganan yang lebih efektif.
"Para dokter yang bertugas di berbagai fasilitas kesehatan tentu menghadapi persoalan yang berbeda-beda. Melalui rumah bersama ini mereka dapat bertukar pengalaman dan mencari solusi secara bersama-sama," ujarnya.
Elisa mengatakan sektor kesehatan di Papua Barat Daya masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk ketimpangan distribusi tenaga kesehatan, khususnya dokter spesialis, di sejumlah daerah.
Menurut dia, peran organisasi profesi seperti IDI sangat penting dalam memberikan masukan kepada pemerintah daerah guna meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat.
Apabila ditemukan persoalan kesehatan yang berpotensi menjadi ancaman atau mengarah pada kejadian luar biasa (KLB), kata dia, maka hal tersebut dapat dibahas bersama pemerintah daerah untuk menentukan langkah penanganan yang tepat.
Elisa juga mengatakan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) PBD untuk terus memperjuangkan pembangunan rumah sakit milik provinsi guna memperkuat sistem layanan kesehatan daerah.
"Kita tetap berjuang agar Papua Barat Daya memiliki rumah sakit provinsi. Saat ini tahapan perencanaan terus berjalan, termasuk revisi master plan, penyusunan amdal, DED, dan berbagai dokumen teknis lainnya," kata Gubernur Elisa Kambu.
Sementara itu Ketua IDI Cabang Sorong Feliks Duwit mengapresiasi mengatakan keberadaan Rumah Bersama IDI menjadi bukti bahwa pemerintah daerah memandang organisasi profesi kesehatan sebagai mitra strategis dalam pembangunan sektor kesehatan.
"Kami bersyukur karena akhirnya memiliki rumah bersama sebagai sekretariat organisasi. Ini menjadi bukti bahwa pemerintah daerah memberikan perhatian terhadap organisasi profesi tenaga kesehatan, khususnya IDI," ujarnya.
Feliks mengatakan secara eksternal Rumah Bersama IDI diharapkan dapat berfungsi sebagai pusat kajian dan pengembangan kebijakan kesehatan berbasis data ilmiah yang dapat mendukung penyusunan program kesehatan yang tepat sasaran.
Ia juga kembali mendorong pemerintah daerah untuk menetapkan status darurat kesehatan di Papua Barat Daya karena daerah tersebut masih menghadapi beban ganda penyakit, baik penyakit menular maupun penyakit tidak menular.
Menurut dia, kasus HIV, tuberkulosis, malaria, dan kusta masih cukup tinggi, sementara penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan kanker juga terus meningkat.
Selain itu persoalan stunting dan rendahnya angka harapan hidup masyarakat Papua masih menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan.
"Kita memiliki musuh yang sama, yaitu berbagai persoalan kesehatan masyarakat. Karena itu seluruh program harus terintegrasi dan tidak berjalan sendiri-sendiri," kata Feliks.
Pewarta: Yuvensius Lasa BanafanuEditor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026