Manokwari (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua Barat mencatat kurang lebih 50 ribuan warga di wilayah itu sudah memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah diselenggarakan sejak pertengahan tahun 2025.
Kepala Dinkes Papua Barat Alwan Rimosan di Manokwari, Senin, mengatakan Program CKG dilaksanakan secara rutin oleh jajaran Dinas Kesehatan baik provinsi maupun kabupaten, namun pendataan terkendala dengan jaringan internet.
"Ada beberapa puskesmas yang data hasil CKG dilakukan manual, baru diinput ke aplikasi. Kalau sekarang, jumlah warga yang sudah terdata kurang lebih 50-an ribu jiwa," katanya.
Pihaknya terus menggencarkan edukasi dan sosialisasi manfaat CKG yang merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto, guna meningkatkan kesadaran serta partisipasi masyarakat.
Pemerintah provinsi juga telah menerbitkan surat edaran pelaksanaan CKG yang menyasar peserta didik jenjang SD hingga SMA/SMK sebagai upaya deteksi dini masalah kesehatan, serta mendukung tumbuh kembang siswa.
"Kami target selama triwulan I tahun 2026 semua peserta didik ikut CKG, termasuk komunitas masyarakat lainnya," ujar Alwan.
Menurut dia, optimalisasi Program CKG membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk partai politik dan komunitas keagamaan.
Ia menegaskan sinergisitas dan kolaborasi merupakan faktor penting dalam mendukung keberhasilan CKG yang relevan dengan misi Papua Sehat pada dokumen Rencana Induk Percepatan Pembangunan Papua (RIPPP) periode 2022 - 2041.
"Kami senantiasa membuka komunikasi dengan berbagai pihak, terutama yang mau berkegiatan di ruang publik," ucap Alwan.
Sebelumnya Ketua Komite III DPD RI Filep Wamafma menyebut sudah semestinya pemerintah daerah melalui instansi teknis menerapkan konsep jemput bola guna memudahkan masyarakat memperoleh akses layanan kesehatan gratis secara berkala.
Hal ini berkaitan dengan kondisi dan karakteristik masyarakat yang cenderung pasif, sehingga memerlukan kehadiran langsung petugas kesehatan di lapangan untuk menjangkau warga hingga ke tingkat kampung.
"Layanan jemput bola tidak hanya memudahkan masyarakat, tapi wujud nyata kehadiran pemerintah untuk mengurai masalah kesehatan," kata Filep.
