Sorong (ANTARA) - Pemerintah Kota Sorong, Papua Barat Daya, menyiapkan sebanyak 38 ekor sapi kurban lokal untuk memenuhi kebutuhan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi sebagai upaya mendukung momentum hari besar keagamaan itu.
Kepala Dinas Pertanian Kota Sorong, Nelwan Hara di Sorong, Rabu, mengatakan seluruh sapi kurban tersebut telah melalui pemeriksaan kesehatan dan administrasi oleh tim teknis Dinas Pertanian.
“Sebanyak 38 ekor sapi kurban sudah kami siapkan. Kami telah melakukan pemeriksaan kesehatan dan administrasi sehingga dipastikan sapi kurban yang akan disembelih tahun ini sehat dan sesuai standar nasional,” katanya.
Ia menjelaskan, sapi kurban yang disiapkan tahun ini seluruhnya berasal dari peternak lokal binaan Dinas Pertanian Kota Sorong.
Menurut dia, pemerintah daerah melalui dinas teknis telah melakukan pendampingan langsung kepada kelompok peternak dalam rangka penyediaan hewan kurban menjelang Idul Adha.
“Sapi kurban tahun ini seluruhnya berasal dari Kota Sorong, dari peternak binaan kami,” ujarnya.
Selain pemeriksaan kesehatan, Dinas Pertanian juga telah melakukan pengobatan dan pengawasan kesehatan hewan beberapa minggu sebelum pelaksanaan Idul Adha guna memastikan hewan bebas dari penyakit.
Nelwan menambahkan, distribusi sapi kurban nantinya akan disesuaikan dengan data panitia pelaksana kurban di masjid-masjid yang ada di Kota Sorong.
“Kami juga sudah melakukan rapat teknis untuk menyiapkan personel pendamping saat pemotongan hewan kurban di hari H,” katanya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kota Sorong, Rocky Kawer, mengatakan pengawasan hewan kurban dilakukan untuk memastikan daging yang dikonsumsi masyarakat memenuhi standar ASUH, yakni aman, sehat, utuh, dan halal.
Ia menjelaskan, pengawasan dilakukan melalui dua tahapan pemeriksaan, yakni antemortem atau pemeriksaan fisik sebelum penyembelihan dan postmortem atau pemeriksaan organ serta daging setelah pemotongan.
“Setelah pemeriksaan antemortem, kami mengeluarkan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) yang ditandatangani dokter hewan berwenang,” ujarnya.
Menurut Rocky, pemeriksaan postmortem penting dilakukan karena petugas kerap menemukan organ hewan seperti hati dan paru-paru yang terindikasi mengandung cacing atau penyakit tertentu.
"Apabila ditemukan dugaan penyakit berbahaya, organ atau daging tersebut akan dipisahkan dan diperiksa lebih lanjut di laboratorium karantina hewan," ujarnya.
Ia menambahkan, Dinas Pertanian menargetkan peningkatan lokasi pemotongan hewan kurban tahun ini menjadi sekitar 30 hingga 35 masjid dari sebelumnya sekitar 22 masjid pada tahun lalu.
“Kami bekerja sama dengan MUI dan Badan Musyawarah Mubalig Indonesia untuk pendataan lokasi pemotongan hewan kurban,” katanya.
Pewarta: Yuvensius Lasa BanafanuEditor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026