Timika (ANTARA) - Bupati Mimika Johannes Rettob mengatakan Parade Paskah diselenggarakan Persekutuan Gereja-Gereja Mimika (PGGM) menjadi kesempatan baik untuk memperkuat persatuan di tengah perbedaan dan keberagaman umat beragama.
“Kita harus mempertahankan keharmonisan. Parade Paskah yang kita lakukan merupakan wujud kebersamaan lintas agama di Mimika,” kata dia di Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, Selasa.
Kreativitas yang ditampilkan dalam Parade Paskah, kata dia, simbol iman serta ekspresi sukacita umat atas peristiwa Paskah yang dirayakan bersama.
“Tidak ada perbedaan antar-agama. Kita harus menjadi satu dalam semua perayaan keagamaan,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Mimika memberikan apresiasi atas kebersamaan masyarakat dalam setiap hari raya, terutama dalam kehidupan beragama dimulai dengan perayaan Imlek, Nyepi, Idul Fitri 1447 Hijriah, dan Paskah 2026.
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut serta dalam perayaan Parade Paskah ini dengan baik. Semoga nilai-nilai Paskah dapat hidup dalam kehidupan sehari-hari kita,” kata Johannes.
Ia menjelaskan perayaan Paskah merupakan peristiwa kebangkitan Yesus Kristus yang membawa kemenangan atas dosa dan kematian.
“Makna kebangkitan ini menjadi harapan baru bagi seluruh umat manusia, bahwa di tengah tantangan kehidupan yang besar, selalu ada terang bagi kita semua,” ujarnya.
Parade Paskah yang dilaksanakan oleh PGGM merupakan Parade Paskah ekumenis dan juga melibatkan lintas agama dengan melakukan pawai keliling Kota Timika.
Kegiatan Parade Paskah kali ini bukan hanya diikuti oleh umat Kristen tetapi juga umat Hindu, Buddha dan Islam di Mimika.
“Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi memiliki makna yang perlu kita renungkan. Ini adalah wujud nyata kebersamaan umat Kristiani lintas denominasi gereja dalam satu semangat persatuan,” kata Johannes.
