Manokwari (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua Barat mengintegrasikan program pemberdayaan tanaman obat keluarga dan akupresur dengan pelayanan kesehatan bergerak guna memperluas akses bagi masyarakat di Kabupaten Manokwari, terutama daerah pinggiran.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Papua Barat Thomas O Saghawari di Manokwari, Selasa, mengatakan program tersebut berlangsung sejak 15 hingga 20 Mei 2026 dengan sasaran warga Kampung Syou, Amber, dan Aserbey, Distrik Mokwam.
“Program ini menyasar daerah yang tidak terjangkau layanan reguler. Tim bidang kesehatan masyarakat, pencegahan penyakit, hingga sumber daya manusia kesehatan turun langsung ke lapangan,” katanya.
Menurut dia, pendekatan pelayanan tidak hanya berfokus pada aspek kuratif atau pengobatan, tetapi juga memperkuat edukasi kesehatan melalui kegiatan promotif dan preventif agar masyarakat memiliki kemampuan menjaga kesehatan secara mandiri.
Keterlibatan sejumlah dokter spesialis dalam pelaksanaan program tersebut menjadi nilai tambah bagi masyarakat kampung yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan lanjutan.
“Ini mungkin hal baru bagi masyarakat kampung. Kehadiran dokter spesialis tentu sangat membantu. Walaupun anggaran terbatas, ini jadi model layanan yang diharapkan bisa diikuti oleh kabupaten,” ujarnya.
Ia menjelaskan dokter spesialis yang berpartisipasi dalam kegiatan pelayanan kesehatan di Distrik Mokwam, antara lain dokter spesialis anak dr Maria CH Warwe, dokter spesialis telinga hidung dan tenggorokan (THT) dr Asmawati Adnan, dan dr Siti R Saifoeddin.
Pelaksanaan kegiatan hari pertama berlangsung di Kampung Syou dengan antusias masyarakat yang tinggi untuk mengikuti pemeriksaan kolesterol, gula darah, asam urat, tes malaria, serta pengukuran status gizi.
“Sistem jemput bola, tenaga kesehatan datangi kampung-kampung untuk menjangkau masyarakat yang memiliki keterbatasan akses menuju fasilitas kesehatan,” ujarnya.
Staf Dinkes Papua Barat Novia Elma Ulpa Heluth menjelaskan integrasi pemberdayaan tanaman obat keluarga dan akupresur dalam kegiatan dimaksud menjadi langkah awal pelayanan kesehatan tradisional yang lebih dekat dengan masyarakat.
Kegiatan pelayanan kesehatan itu sebelumnya lebih difokuskan pada pelatihan, koordinasi, monitoring dan evaluasi tingkat kabupaten, termasuk pembagian bibit tanaman obat dan media edukasi kepada pengelola program kesehatan tradisional di puskesmas.
“Kader kampung diedukasi terkait pemanfaatan dan pembuatan obat tradisional serta teknik akupresur untuk bantu penanganan keluhan kesehatan ringan secara mandiri di lingkungan keluarga,” ujarnya.
Program itu merupakan implementasi pengembangan pelayanan kesehatan tradisional sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2016 tentang Asuhan Mandiri Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga dan Keterampilan Akupresur.
Dinas Kesehatan Papua Barat berharap, kader kampung dapat menjadi perpanjangan tangan edukasi kesehatan sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat diteruskan kepada masyarakat secara lebih luas.
Pewarta: Fransiskus Salu WekingEditor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026